Category Archives: sejarah

Peringatan bagi Pemimpin

Oleh Anies Baswedan

Makin hari kegalauan itu tumbuh makin pesat, tetapi berhentilah mengatakan bangsa ini bobrok. Hentikan tudingan bahwa bangsa ini tenggelam. Tidak! Bangsa ini sedang bangkit dan akan makin tinggi berdirinya.

Lihatlah rakyat di sana-sini, bangun sebelum pagi, penuhi pasar rakyat, padati jalan dan kelas, menyongsong kehidupan. Dengan sinar lampu apa adanya mereka coba sinari masa depan sebisanya. Petani, guru, nelayan, pedagang, atau tentara di tepian republik jalani hidup berat penuh tanggung jawab. Di tengah kepulan polusi pekat, rakyat kota menyelempit mencari masa depan. Mereka rebut peluang, jalani segala kesulitan tanpa pidato keprihatinan. Rakyat yang tegar dan tangguh. Denyut geraknya membanggakan.

Kegalauan republik ini bukan bersumber pada rakyat, melainkan pada pengurus negara yang seakan berjalan tanpa target. Deretan agenda penting dan urgen jadi wacana, tetapi tidak kunjung jadi realitas.

Pengurus republik sukses membangun kekesalan kolektif dan menanam bibit pesimisme. Pimpinan kini menuai kekecewaan. Harapan, kepercayaan, pengertian, toleransi, kesabaran, dan permakluman rakyat kepada pemimpin dikuras terus. Apakah dikira stok permakluman itu tanpa batas?

Dengan hormat saya sampaikan: stok itu ada batasnya dan sudah menipis. Semua ingin lihat hasil. Tak mau lagi dengar keluh kesah, tak hendak dengar kata prihatin keluar dari pemimpin. Republik ini perlu pemimpin yang hadir untuk menggelorakan percaya diri, bukan menularkan keprihatinan. Pemimpin tak boleh kirim ratapan, pemimpin harus kirim harapan.

Sebatas pidato dan wacana

Hari ini Indonesia memasuki era demokrasi etape ketiga. Kepresidenan periode kedua. Tidak pernah ada dalam sejarah republik ini seorang anak bangsa dipilih jadi pemimpin dengan suara sebanyak saat Presiden Yudhoyono di tahun 2009. Semua persyaratan untuk melakukan dan menuntaskan langkah-langkah besar ada di sana. Tapi mana langkah besar itu: infrastruktur ekonomi? Kepastian hukum? Integritas di sekolah? Tegas kepada pengemplang pajak? Pemangkasan benalu APBN? Konsistensi kebijakan? Reformasi birokrasi? Jaminan kebinekaan bangsa? Perlindungan warga bangsa?

Harapan yang tinggi untuk membereskan agenda penting baru sebatas pidato dan wacana. Republik perlu realitas. Pemerintah memang punya capaian, tetapi jika ada keberanian untuk menggelontorkan terobosan-terobosan besar di sektor penting, maka capaian itu akan melonjak. Kekecewaan tumbuh bukan semata karena pemerintah tak membawa hasil, melainkan karena terlalu banyak peluang terobosan dan perubahan yang disia-siakan. Sebutlah soal energi atau infrastruktur sistem logistik (jalan, pelabuhan, bandara, dan lain-lain), terobosan di sini bisa membuat ekonomi melejit. Atau terobosan besar dalam penegakan hukum. Perusak kebinekaan didiamkan, pengemplang pajak tak dijerat. Hukum tegak kokoh tanpa kompromi bagi rakyat kecil, tapi hukum loyo lunglai di depan rakyat besar.

Ini semua dampak absennya keberanian menerobos. Semua serba alakadarnya. Amunisi politik yang dahsyat itu tak digunakan. Republik ini butuh pemimpin yang mau turun ke lapangan, pemimpin kerja dan bukan pemimpin upacara. Rakyat tidak perlu pengumuman hasil rapat, tapi ingin lihat implementasinya.

Lihat sejarah kita, gamblang sekali. Republik ini didirikan oleh orang-orang yang berintegritas. Integritas itu membuat mereka jadi pemberani dan tak gentar hadapi apa pun. Bukan pencitraan, tapi integritas dan keseharian yang apa adanya membuat mereka memesona. Mereka jadi cerita teladan di seantero negeri.

Kini republik membutuhkan pemimpin yang berani tegakkan integritas, berani perangi ”jual-beli” kebijakan dan jabatan, pemimpin yang mau bertindak tegas melihat APBN untuk rakyat ”dijarah” oleh mereka yang punya akses. Ya, pemimpin yang bernyali menebas penyeleweng tanpa pandang posisi atau partai, dan bukan pemimpin yang serba mendiamkan seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

Republik ini perlu pemimpin yang mendorong yang macet, membongkar yang buntu, dan memangkas berbenalu. Pemimpin yang tanggap memutuskan, cepat bertindak, dan tidak toleran pada keterlambatan. Pemimpin yang siap untuk ”lecet-lecet” melawan status quo yang merugikan rakyat, berani bertarung untuk melunasi tiap janjinya. Republik ini perlu pemimpin yang memesona bukan saja saat dilihat dari jauh, tetapi pemimpin yang justru lebih memesona dari dekat dan saat kerja bersama.

Bukan pemimpin yang selalu enggan memutuskan dan suka melimpahkan kesalahan. Bukan pemimpin yang diam saat rakyat didera, lembek saat republik dihardik negara tetangga, tapi lantang dan keras justru saat diri pribadi atau keluarganya tersentuh. Pemimpin yang tak gentar dikatakan mengintervensi karena mengintervensi adalah bagian dari tugas pemimpin dan pembiaran tidak boleh masuk dalam daftar tugas seorang pemimpin.

Jika Presiden Yudhoyono tidak segera mengubah cara menjalankan pemerintahan, maka saya harus mengingatkan bahwa bangsa Indonesia bisa memasuki persimpangan jalan yang berbahaya.

Jalan pertama adalah meneruskan kepemimpinan sampai di 2014 agar proses demokrasi berjalan normal tapi rakyat mencicipi hasil yang alakadarnya, deretan peluang kemajuan hilang tanpa bekas. Keterlambatan dan pembiaran jadi ciri beberapa tahun ke depan. Bahkan lunglainya penegakan hukum adalah resep mujarab menuju negara kacau.

Jalan kedua mulai menyeruak. Jalan berbahaya tapi suara ini mulai berkembang sebagai respons atas kelambatan dan pembiaran sistemik ini: berhenti di tengah jalan dan berikan kepada orang lain untuk memimpin. Suara macam ini bisa merusak pranata siklus demokrasi yang dibangun dengan sangat susah payah. Suara ini tumbuh karena keyakinan bahwa lewat jalan terjal ini bisa terjadi pembongkaran atas pembiaran dan kelambanan; agar rakyat tak dirugikan terus-menerus.

Tak optimal

Semua tahu sistem presidensial menjamin presiden bisa bekerja sebagai eksekutor pemerintahan dan melindunginya agar tak dapat diberhentikan oleh alasan politis. Hari ini yang dihadapi Indonesia situasi sebaliknya. Periode dijamin aman oleh konstitusi, tetapi presiden tak optimal jalankan otoritasnya. Keterlambatan berjejer dan pembiaran berderet. Periode fixed lima tahun itu bukan mengamankan agar kerja cepat, kini malah jadi penyandera bangsa dari gerak kemajuan cepat.

Memang presiden bukan dewa atau superman. Tidak pantas semua masalah ditumpahkan ke pundak pemimpin. Akan tetapi, presiden bisa menentukan suasana republik. Pemimpin adalah dirigen yang menghadirkan energi, nuansa, dan aurora di republik ini. Pemimpin bisa fokus menguraikan masalah strategis dan urgen bagi percepatan pelunasan janji-janjinya.

Presiden Yudhoyono harus sadar bahwa caranya menjalankan pemerintahan itu memiliki efek tular. Kelugasan, ketegasan, keberanian, kecepatan, keterbukaan, kewajaran, kemauan buat terobosan, dan perlindungan kepada anak buah bahkan kesederhanaan protokoler itu semua menular. Tapi kebimbangan, kehati-hatian berlebih, kelambatan, ketertutupan, formalitas kaku, pembiaran masalah, orientasi kepada citra dan ketaatan buta pada prosedur itu juga menular. Menular jauh lebih cepat dan sangat sistemik.

Rakyat republik ini sudah kerja keras. Lihat di segala penjuru Indonesia. Mulai dari kampung kumuh-sumuk tak jauh dari istana, di puncak-puncak pegunungan dingin, di tepian pantai sebentangankhatulistiwa: rakyat republik ini serba kerja keras. Mereka mau maju, mereka mau hadirkan kehidupan yang lebih baik bagi anak cucunya. Dan, yang pasti mereka tak biasa tanya siapa yang jadi pemimpin. Buat rakyat banyak tak terlalu penting ”siapa”-nya, yang penting lunasi semua janjinya.

Ini adalah sebuah peringatan apa adanya, semata-mata agar Indonesia tidak menemui persimpangan jalan itu. Ingat, rakyat negeri ini sudah bekerja keras dan ”berlari” cepat. Pengurus negara harus memilih mengimbangi kecepatan rakyat atau ditinggalkan rakyat.

Anies Baswedan Rektor Universitas Paramadina

http://nasional.kompas.com/read/2011/07/25/03064679/peringatan-bagi-pemimpin


Januari 2011, 15 Tahun KM ITB

walau ada beda tanggal di AD/ART dan video deklarasi..di AD/ART tanggal 19 Januari 1996 tapi klo di video nya tanggal 20 Januari 1996.. :p

nu penting mah :

“Wilujeung Tepang Taun KM ITB nu ka Lima Belas”

*KM ITB : Trust, Share, Care*

-=Demi Tuhan, Untuk Bangsa dan Almamater..Merdeka!!=-

catatan penting!! di R. Kongres Sekre KM ITB Gd. MKOR Lt.2 (btw roboh ga y tu gedung?)

 

“Selamat ber-RUK..Selamat buat Perbaikan Sistem nya..Semoga makin konkret berjuang dan berkontribusi dalam kebaikan buat orang banyak di bumi ini…Awasi terus senator mu..Kibar Jaya KM ITB!!”

 

fikrimet05

Bandung, 21 Januari 2011

pukul 00.35 WIB

@home

 

nb : ada file rekapan, sekalian buat transfer lah, buat yang masih aktif di kampus atau yang mau koleksi..silahkan diunduh dan mohon pergunakan sebaik mungkin untuk tujuan yang dibenarkan hukum dan tidak melanggar norma2 yang berlaku.. :

Konsepsi KM ITB 1998

AD-ART KM ITB 1998

AD-ART KM ITB 2001

AD-ART KM ITB 2006

Konsepsi KM ITB 2007

AD-ART KM ITB 2007

Konsepsi KM ITB 2008

AD-ART KM ITB 2008

Landasan Kemahasiswaan 2010

Resume Perjalanan Konsepsi dan AD-ART KM ITB selama 14 Tahun

 

*klo ada koreksi atau tambahan silahkan kontak pemilik blog ini*


Pilih Mana? Ga ada BBM apa Mati Listrik?

pengen nulis dengan judul ini gara2 ketemua anak KENMI 2011 nya KM ITB,,tulisan ini bakalan rada serius karena BBM yang dimaksud bukan Black Berry Messenger tapi Bahan Bakar Minyak aka fuel oil.

….

diskusi ga sengaja ini kami diawali dengan pemaparan rencana tema apa yang ingin disampaikan di KENMI 2011 yaitu mengangkat permasalahan di sektor perminyakan mulai dari distribusi, subsidi dsb juga bagian energi alternatifnya.

setelah pemaparan awal, dimintalah ane memberikan masukan, ane cuman bilang : “klo bisa listrik juga jadi concern, tapi ane masih ga tau biar cocok masuk ke kemasan KENMI-nya.  karena coba pikirin, pilih mana ga ada BBM apa ga ada listrik?”, kira2 itulah statement ane saat diskusi dengan salah seorang panitia KENMI KM ITB 2011 (keknya sih dia ketuanya).

kira2 itulah kronologisnya, dan menurut pendapat ane, silahkan masing2 kita coba jawab, mana yang menurut kita lebih penting untuk kita cermati secara mendetil terkait isu2 yang berseliweran semrawut di media2, ntah siapa yang menghembuskan.. jangan sampe kita kena pengalihan isu..dan disini mari kita coba gali lebih dalam beberapa hal tentang listrik dan BBM..

====================================================

beberapa “info centil” yang ada di otak tentang BBM :

- BBM dari dulu selalu dikabarin akan habis.. dari tahun ke tahun..bahkan dari jaman baheula..tapi nyatanya? hari ini aja masih ada

pendapat :

ini base on dosen geologi dulu di kelas “iA minyak ga akan habis..pengeboran minyak saat ini baru beberapa kilometer saja..”

- gan, ane ga habis pikir kenapa dulu BBM ampe booming kek sekarang penggunaannya.. klo ga salah malah penemu mesin disel itu sendiri ngerancang mesinya buat mesin biofeul

catetan penting :

sebetulya lebih ke efek dari penggunaan BBM yang tidak teratur aja,,n

- emang kita selama ini pake bensin punya siapa sih? perasaan masih kita beli hasil nyuling minyak bumi kita sendiri dari singapura

- masalah subsidi : siapa suruh ngutang? mangga dipikir aja sendiri.. jawabannya.. males jelasinnya.

- rata2 yang make banyak BBM itu orang kaya, pabrik2/industir2..klo dibilang ini BBM kebutuhan tersier atau sekunder..

-alternatif BBM sudah sangat-sangat banyaaak!! ramah lingkungan lagi

awal mesin disel (untuk biofuel)

salah satu kilang minyak di dunia

beberapa “info centil” yang ada di otak tentang listrik :

-ini udah jadi kebutuhan primer deh saat ini untuk semua orang dah.. klo BBM itungannya pas berkenadaraan aja pada ngerasa..

- sumber listrik indonesia 90% di jawa, 7% di sumatera dan 3% di sisanya..jadi ga heran sering reup-bray di luar jawa sana..

nb: sampe saat ini ane ga inget ini dapet dari mana..maap ya gan..:p

-masyoritas pembangkit masih pake batu-bara..walau daerah sumber batu bara sendiri gelap tanpa listrik

- masih banyak daerah belum masih listrik even di pulau jawa sendiri

-harusnya semua perangkat yang pake listrik bisa Indonesia buat sendiri

-pembangkit listrik ga harus batubara, pake aer atau angin udah bisa sekarang.

salah satu jaringan pembangkit listrik

hemat listik nyok!!

=====================================================

nah kesimpulannya apa gan? mangga diserahin aja ama agan/wati sekalian..:D

terakhir nih yang harus kita pikirin beneran..kurang apa coba? teknologi udah ada, insinyur2 banyak melimpah,doktor2 ada,sumber daya banyak!! kenapa BBM dan listrik masih bermasalah?

“kayanya masalahnya itu cuman gara2 ga ada political will dari pemerintah aja.” kata panitia KENMI 2011

–end

wallahu’alam bi shawab

cmiiw

aneh, Indonesia. padahal yang kurang cuman good will pemerintah!! gitu aja kok repot?


Sajak Sebatang Lisong (W.S. Rendra)

Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya,
mendengar 130 juta rakyat,
dan di langit
dua tiga cukong mengangkang,
berak di atas kepala mereka

Matahari terbit.
Fajar tiba.
Dan aku melihat delapan juta kanak-kanak
tanpa pendidikan.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaan-pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet,
dan papantulis-papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan.

Delapan juta kanak-kanak
menghadapi satu jalan panjang,
tanpa pilihan,
tanpa pepohonan,
tanpa dangau persinggahan,
tanpa ada bayangan ujungnya.
…………………

Menghisap udara
yang disemprot deodorant,
aku melihat sarjana-sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya;
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiun.

Dan di langit;
para tekhnokrat berkata :

bahwa bangsa kita adalah malas,
bahwa bangsa mesti dibangun;
mesti di-up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor

Gunung-gunung menjulang.
Langit pesta warna di dalam senjakala
Dan aku melihat
protes-protes yang terpendam,
terhimpit di bawah tilam.

Aku bertanya,
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair-penyair salon,
yang bersajak tentang anggur dan rembulan,
sementara ketidakadilan terjadi di sampingnya
dan delapan juta kanak-kanak tanpa pendidikan
termangu-mangu di kaki dewi kesenian.

Bunga-bunga bangsa tahun depan
berkunang-kunang pandang matanya,
di bawah iklan berlampu neon,
Berjuta-juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau,
menjadi karang di bawah muka samodra.
………………

Kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing.
Diktat-diktat hanya boleh memberi metode,
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan.
Kita mesti keluar ke jalan raya,
keluar ke desa-desa,
mencatat sendiri semua gejala,
dan menghayati persoalan yang nyata.

Inilah sajakku
Pamplet masa darurat.
Apakah artinya kesenian,
bila terpisah dari derita lingkungan.
Apakah artinya berpikir,
bila terpisah dari masalah kehidupan.

17 Agustus 1977
ITB Bandung
Potret Pembangunan dalam Puisi


beda institut, univ, dkk..

ini dia beda institut, universitas dkk..

(dari berbagai sumber)

Menurut Peraturan Pemerintah NOMOR 60 TAHUN 1999

Pasal 6
(1) Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut
perguruan tinggi, yang dapat berbentuk akademipoliteknik, sekolah tinggi, institut atau universitas.
(2) Akademi menyelenggarakan program pendidikan profesional dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian tertentu.
(3) Politeknik menyelenggarakan program pendidikan profesional dalam
sejumlah bidang pengetahuan khusus.
(4) Sekolah Tinggi menyelenggarakan program pendidikan akademik dan/
atau profesional dalam lingkup satu disiplin ilmu tertentu.
(5) Institut menyelenggarakan program pendidikan akademik dan/atau
profesional dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian yang sejenis.
(6) Universitas menyelenggarakan program pendidikan akademik dan/atau
profesional dalam sejumlah disiplin ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian tertentu.

Kesimpulannya ,

Universitas : Perguruan tinggi yang melaksanankan pendidikan keilmuan dan kejuruan dalam bidang ilmu yang bermacam-macam. Universitar terdiri atas berbagai fakultas dengan bidang ilmu yang berlainan. Jenjang studi S0, S1, S2, dan S3 (Tergantung masing-masing univ).

Sekolah tinggi : Perguruan tinggi yang mengajarkan satu bidang pendidikan kejuruan. Namun, bidang pendidikan kejuruan tersebut bisa terdiri atas banyak jurusan/program pendidikan. Jenjang Studinya adalah S0 dan S1. Contohnya STIE, STIA dll.

Institut : kaya sekolah tinggi tapi ada s2 dan s3..kek ITB, ITS, IPB, dkk

Politeknik : Perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan terapan dalam sejumlah bidang pengetahuan khusus, dengan jenjang studi strata nol (S0) atau diploma. Contohnya adalah Politeknik Negeri Jakarta, Politeknik Manufaktur Bandung, dll.

Akademi : Perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pendidikan kejuruan dengan jenjang studi Strata Nol (S0). Contohnya adalah Akademi Farmasi, Pariwisata, Bahasa Asing.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 405 other followers